Archive for the 'Renungan' Category

Sebab-musabab Peperangan

Yakobus 4:1-4

Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?
Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.
Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.
Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.

Kasih Allah Mengubah Manusia

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Ayat diatas mengungkapkan isi hati dan tujuan Allah bahwa Kasih Allah cukup luas untuk menjangkau semua orang, yaitu “dunia ini”. Allah “mengaruniakan” Anak-Nya sebagai korban penghapus dosa di atas kayu salib. Pendamaian mengalir dari hati Allah sendiri yang penuh kasih dan korban Kristus bukanlah suatu tindakan yang terpaksa dilakukan oleh Allah.

Percaya mengandung tiga unsur utama: keyakinan yang kokoh bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah dan satu-satunya Juruselamat umat manusia yang hilang; persekutuan yang menyangkal diri dan ketaatan kepada Kristus; dan kepercayaan penuh di dalam Kristus bahwa Ia mampu dan bersedia menuntun kita hingga keselamatan kekal dan persekutuan dengan Allah di Sorga.

“Binasa” tidak menunjuk kepada kematian jasmani, tetapi kepada kematian rohani dan hukuman kekal yang begitu mengerikan. Dan “Hidup kekal” adalah karunia yang dianugerahkan Allah kepada kita pada saat kita dilahirkan kembali. “Kekal” bukan saja mengacu kepada keabadian tetapi juga kepada kualitas kehidupan ini; suatu jenis kehidupan yang ilahi, kehidupan yang membebaskan kita dari kuasa dosa dan Iblis serta meniadakan yang duniawi di dalam diri kita supaya kita dapat mengenal Allah.

Ketika kejatuhan manusia di taman Firdaus, manusia kehilangan Kemuliaan Allah. Dan dengan segala daya upaya manusia berusaha untuk mencari dan bertemu dengan Allah, tetapi semuanya sia-sia, hanya satu yang diperlukan oleh manusia yaitu: Pemulihan kembali hubungan dengan Tuhan Allahnya.

Rasa bersalah dan kesadaran akan dosa membuat Adam dan Hawa menghindari Allah. Mereka takut dan tidak tenang di hadirat-Nya, sadar bahwa mereka berdosa dan tidak berkenan pada-Nya. Dalam keadaan ini mustahil bagi mereka untuk menghampiri Dia dengan penuh yakin. Di dalam keadaan berdosa, kita juga seperti Adam dan Hawa. Akan tetapi, Allah sudah menyediakan suatu jalan untuk membersihkan hati nurani kita yang bersalah, membebaskan kita dari dosa, dan memulihkan persekutuan dengan kita. Jalan itu ialah “Yesus Kristus”

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)

Melalui penebusan yang disediakan Allah di dalam Anak-Nya, kita dapat menghampir-Nya untuk menerima kasih, kemurahan, kasih karunia, dan pertolongan-Nya pada waktunya.

Dengan pengorbanan dan kematian Yesus Kristus mengubah dan membebaskan kita dari dosa. Karena Allah telah menetapkan kasihnya sebelum penciptaan dunia ini yaitu untuk membentuk dan memperbaiki hubungan dengan umatNya melalui korban Yesus Kristus yang telah menebus dosa kita di atas kayu salib. (Roma 3:24-26)

Yesus adalah pendamai segala dosa kita (I Yohanes 2:2-4). Yesus menginginkan agar apa yang kita lakukan di dalam kehidupan kita harus mencerminkan “damai”. Damai itu selalu ada dan untuk itu Yesus datang agar supaya membawa “pendamaian” antara Allah dan umat manusia yang sudah terpisah jauh dari Allah.

Yesus datang menyucikan kita dari segala dosa kita (Ibrani 1:3-4), terkadang tanpa kita sadari merasa diri sok suci dari yang lain, kita mengangap remeh yang lain, kita tidak mempedulikan yang lain, seolah-olah diri kita benar dihadapan Allah. Padahal kita masih kotor dan kita tidak dapat menyucikan diri kita dari dosa. Kita adalah manusia yang penuh dosa, melainkan karena Yesus Kristus, yang mengetahui betapa pekat dan hitamnya dosa kita.

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju; dan sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba akan menjadi putih seperti bulu domba. Jika kamu menurut dan mau mendengar” (Yesasa 1:18-19a)


Yohanes 14:6

Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.
November 2014
S S R K J S M
« Jul    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Kategori

web metrics

Yakobus 1:27


Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.